4.
Tanpa Diduga
Suasana
gedung olahraga kampus hari ini cukup ramai. Sefa mengambil handphonenya dan mulai mengetik.“Kak Meta, dimana ?” Sefa pun
mengirimnya ke nomor Meta. Beberapa detik kemudian terdengar nada pesan masuk
di handphone Sefa. “Belum, Fa. Kamu tunggu di dalem aja sambil
nyari tempat duduk yang bagus buat nonton. Kakak sebentar lagi sampe”. Membaca
pesan tersebut Sefa kemudian masuk ke dalam gedung. Saat sampai di dalam Sefa
bingung mau duduk dimana. Karena sudah banyak orang. Tiba-tiba Sefa mendengar
seseorang memanggil namanya. Sefa pun menoleh ke arah suara tersebut.
“Sefa!
Duduk sini aja!”
“Ha?
Setya?!” kata Sefa dalam hati. Dia bingung sekaligus senang.
Lambaian
setya membuat Sefa menghampirinya. Sefa pun duduk di samping Setya.
“Hai,
Fa! Kamu juga suka nonton basket? Sama siapa? Sendiri?” tanya Setya.
“Hai.
Iya aku suka nonton basket. Enggak , aku enggak sendiri. Aku udah janjian sama
seseorang.” Jawab Sefa, “Aku nggak
sendiri kan aku sama kamu, Setya!” batin Sefa. “Kamu sendiri atau sama siapa?”
tambah Sefa.
“Aku...kalo
tadi sih aku sendiri. Tapi sekarang kan udah sama kamu. Hehe.” Jawab Setya
sambil memandang Sefa.
“O..o
gitu ya? Ehehe.” Sefa senang mendengar Setya berkata seperti itu. Dia menjadi
sedikit kaku duduk di samping Setya.
Setelah itu keduanya terdiam sambil memandang para
pemain basket yang sedang melakukan pemanasan. Sefa tak mengetahui jika Meta
sudah sampai di sampingnya. Sefa masih memikirkan kata-kata Setya tadi.
“Hei,
Fa!” sapa Meta.
“Eh
Kak Meta. Udah dari tadi?” Balas Sefa dengan setengah kaget.
“Enggak.
Baru aja kok.”
“Hai,
Kak Meta!” sapa Setya yang ternyata mengenal Meta.
“Hai,
Setya!” jawab Meta.
“Jadi
kalian udah saling kenal ya?” tanya Sefa.
“Iya.
Kan Setya tetangga aku.” jawab Meta.
“Oh..kok
aku nggak tau ya?”
“Emang
kamu tau apa tentang aku?” timpal Setya.
“E
e..?” Sefa gelagapan dengan pertanyaan Setya kali ini. Nggak lucu kan kalau
ketahuan kalau diam-diam selama ini dia memerhatikan Setya.
“Eh
udah mulai tu!” teriak Meta mengalihkan pembicaraan kepada pertandingan yang
sudah dimulai.
Sefa
menghela napas lega. Beruntung pertandingan sudah dimulai, jadi dia tidak harus
merasa nervous menjawab pertanyaan
Setya.
Sepanjang
jalannya pertandingan para penonton bersorak-sorai memberi semangat pada tim
dukungan mereka. Sefa dan Meta terlihat sangat bersemangat saat tim kampusnya
mencetak skor, apalagi jika Uki yang mencetaknya. Setya pun ikut senang dengan
itu. Tapi dia merasa tidak enak saat Sefa meneriakkan kata-kata penyemangat
untuk Uki. Saat pergantian babak Setya mencoba mengajak Sefa mengobrol.
“Ini
Fa, minum dulu.” Setya memberikan sebotol air mineral pada Sefa.
“Terima
kasih.” Sefa meminum air mineral itu.
“Kamu
ngefans sama Uki ya, Fa?” tanya Setya tiba-tiba.
“Nggak
ngefans lagi. Suka banget malah. Bahkan aku deket banget sama dia.”
“Ha?
Deket banget?” Setya sedikit terkejut.
“Iya.
Emangnya kenapa?” Sefa merasa heran dengan tanggapan Setya barusan.
“E..nggak
apa-apa kok.” Jawab Setya gelagapan.
Sefa
pun kembali menyaksikan pertandingan. Sedangkan Setya masih memikirkan ada
hubungan apa antara Sefa dan Uki. Sisa pertandingan hanya Setya habiskan untuk
memikirkan hal tersebut. Dia sama sekali tidak mengamati jalannya pertandingan.
Sesekali dia menengok Sefa lalu kembali dengan pikirannya.
----@----