.....
Setelah Sefa selesai bercerita.
“Oh
jadi gitu. Seneng banget ni pastinya.” Kata Nala.
“Ya
iyalah.”
Terdengar
bunyi pintu terbuka yang membuat Sefa dan Nala bebarengan menoleh ke arah
pintu. Terlihat seorang laki-laki muda dengan handuk di pundaknya.
“Hayo
kalian berdua lagi ngapain? Pasti lagi curhat ya?” kata pria tersebut.
“Ih kakak apaan sih?” kata Sefa.
Ternyata
pria muda tersebut adalah kakak Sefa dan Nala. Namanya Uki. Jarak umurnya hanya
dua tahun dengan Sefa dan lima tahun dengan Nala. Meskipun sering bertengkar
mereka sangat dekat. Semua tahu tentang pribadi masing-masing. Sampai masalah
yang sangat pribadi pun mereka mengetahuinya.
“Nggak usah ditebak aja kakak udah tahu kali!” jawab
Sefa menambahkan.
“Iya
nih si kakak kaya nggak tahu aja. Biasanya juga ikut curhat!” tambah Nala.
“Oh
gitu ya? Kenapa dengan si Setya? Dia punya pacar baru? Atau gebetan baru?”
tanya Uki manas-manasin Sefa.
“Ih...kakak!!
Kok gitu banget si sama adiknya! Bukannya didukung!” jawab Sefa dengan kesal.
“Iya
deh. Maaf-maaf. Terus apaan dong?”
“Pokoknya
ini adalah mukjizat bagi kak Sefa.” Celoteh nala.
“Haha...
mukjizat? Rasul kali dapet mukjizat?”
“Yee...kan
kak Uki nggak percaya. Aku ceritain tapi mandi dulu gih! Bau banget!” ucap
Nala.
“Iya
tu! Bau banget!” tambah Sefa.
“Bau
ya? Oke deh kakak mandi dulu.”
Uki
pun pergi menuju kamar mandi, dan berpapasan dengan mamanya yang baru keluar
dari kamar.
“Baru
pulang, Ki?” tanya Mama Maula.
“Ya
udah agak tadi si, Ma.”
“Kok
mama baru lihat?”
“Iya
mampir dulu di kamar sebelah. Haha.” Jawab Uki dengan tertawa.
“Kalo
pulang itu langsung mandi, jangan ngobrol dulu. Biar nggak kesorean!”
“Iya,
Ma. Udah tahu.” Jawab Uki sambil masuk kamar mandi.
----@----
Malam
harinya, saat makan malam semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk
makan malam bersama. Termasuk Papa Adri -papa Uki, Sefa dan Nala- yang sudah
pulang kerja.
“Ya
sebelum kita makan, marilah kita berdoa semoga makanan ini memberi berkah
kepada kita.” Ucap Papa Adri.
“Amin..”
Suasana
makan di keluarga Sefa sangatlah hangat. Tidak ada yang mengobrol selama mereka
makan. Hanya pembicaraan kecil, misalkan menawarkan lauk atau meminta air
minum. Keluarga sefa sangat menjaga kebiasaan tersebut. Ketiga saudara itupun
sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut karena sudah diajari sejak mereka
masih kecil.
----@----
Mama
Maula, Nala dan Sefa membereskan meja makan setelah mereka selesai makan malam.
Sementara itu, sepeti biasa Papa Adri duduk di sofa di depan televisi menonton
berita atau menonton pertandingan bola jika ada. Uki datang dengan membawa dua
cangkir kopi.
“Ini,
Pa kopinya.” Ucap Uki sambil meletakkan secangkir kopi di meja depan papanya.
“Makasih,
Ki. Gimana tadi pertandingannya?” tanya Papa Adri pada Uki yang lusa sudah
menceritakan kalau dia akan bertanding basket tadi sore.
“Ya
menang dong, Pa. Papa nggak nonton sih. Coba kalo nonton pasti Papa bakalan
rekomendasikan Uki buat ikut main di klubnya temen Papa yang punya klub basket
itu.” jawab Uki dengan bangga.
“O
ya? Lain kali Papa nonton deh. Nanti Papa seklian ajak temen Papa. Siapa tahu
kamu beruntung bisa main di klubnya.”
“Sipp
deh, Pa!”
Malam
pun semakin larut. Semuanya telah masuk ke kamar masing-masing dan mulai terlelap.
Tapi tidak bagi Sefa, dia tidak bisa tidur.
“Nala!
Nala!” panggil Sefa pada Nala-yang berada di ranjang sebelahnya-yang sudah
larut dalam alam mimpinya. “Yah..udah tidur ni anak.”
Sefa
masih terbayang-bayang kejadian tadi di kampus. Wajah Setya terus ada di
pikirannya. Andaikan Setya tahu apa yang dia rasakan, dan setya pun merasakan
hal yang sama pasti hidup Sefa akan jadi lebih sempurna dari sekarang.
Lama-lama
Sefa tertidur dengan khayalan-khayalannya.
No comments:
Post a Comment