Member of Saiensu_Sparow Squad

Member of Saiensu_Sparow Squad

Wednesday, July 3, 2013

MaBelle et MeBeau (Family life Part 2)



.....
Setelah Sefa selesai bercerita.
            “Oh jadi gitu. Seneng banget ni pastinya.” Kata Nala.
            “Ya iyalah.”
            Terdengar bunyi pintu terbuka yang membuat Sefa dan Nala bebarengan menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang laki-laki muda dengan handuk di pundaknya.
            “Hayo kalian berdua lagi ngapain? Pasti lagi curhat ya?” kata pria tersebut.
            “Ih  kakak apaan sih?” kata Sefa.
            Ternyata pria muda tersebut adalah kakak Sefa dan Nala. Namanya Uki. Jarak umurnya hanya dua tahun dengan Sefa dan lima tahun dengan Nala. Meskipun sering bertengkar mereka sangat dekat. Semua tahu tentang pribadi masing-masing. Sampai masalah yang sangat pribadi pun mereka mengetahuinya.
            “Nggak  usah ditebak aja kakak udah tahu kali!” jawab Sefa menambahkan.
            “Iya nih si kakak kaya nggak tahu aja. Biasanya juga ikut curhat!” tambah Nala.
            “Oh gitu ya? Kenapa dengan si Setya? Dia punya pacar baru? Atau gebetan baru?” tanya Uki manas-manasin Sefa.
            “Ih...kakak!! Kok gitu banget si sama adiknya! Bukannya didukung!” jawab Sefa dengan kesal.
            “Iya deh. Maaf-maaf. Terus apaan dong?”
            “Pokoknya ini adalah mukjizat bagi kak Sefa.” Celoteh nala.
            “Haha... mukjizat? Rasul kali dapet mukjizat?”
            “Yee...kan kak Uki nggak percaya. Aku ceritain tapi mandi dulu gih! Bau banget!” ucap Nala.
            “Iya tu! Bau banget!” tambah Sefa.
            “Bau ya? Oke deh kakak mandi dulu.”
            Uki pun pergi menuju kamar mandi, dan berpapasan dengan mamanya yang baru keluar dari kamar.
            “Baru pulang, Ki?” tanya Mama Maula.
            “Ya udah agak tadi si, Ma.”
            “Kok mama baru lihat?”
            “Iya mampir dulu di kamar sebelah. Haha.” Jawab Uki dengan tertawa.
            “Kalo pulang itu langsung mandi, jangan ngobrol dulu. Biar nggak kesorean!”
            “Iya, Ma. Udah tahu.” Jawab Uki sambil masuk kamar mandi.
----@----
            Malam harinya, saat makan malam semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Termasuk Papa Adri -papa Uki, Sefa dan Nala- yang sudah pulang kerja.
            “Ya sebelum kita makan, marilah kita berdoa semoga makanan ini memberi berkah kepada kita.” Ucap Papa Adri.
            “Amin..”
            Suasana makan di keluarga Sefa sangatlah hangat. Tidak ada yang mengobrol selama mereka makan. Hanya pembicaraan kecil, misalkan menawarkan lauk atau meminta air minum. Keluarga sefa sangat menjaga kebiasaan tersebut. Ketiga saudara itupun sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut karena sudah diajari sejak mereka masih kecil.
----@----
            Mama Maula, Nala dan Sefa membereskan meja makan setelah mereka selesai makan malam. Sementara itu, sepeti biasa Papa Adri duduk di sofa di depan televisi menonton berita atau menonton pertandingan bola jika ada. Uki datang dengan membawa dua cangkir kopi.
            “Ini, Pa kopinya.” Ucap Uki sambil meletakkan secangkir kopi di meja depan papanya.
            “Makasih, Ki. Gimana tadi pertandingannya?” tanya Papa Adri pada Uki yang lusa sudah menceritakan kalau dia akan bertanding basket tadi sore.
            “Ya menang dong, Pa. Papa nggak nonton sih. Coba kalo nonton pasti Papa bakalan rekomendasikan Uki buat ikut main di klubnya temen Papa yang punya klub basket itu.” jawab Uki dengan bangga.
            “O ya? Lain kali Papa nonton deh. Nanti Papa seklian ajak temen Papa. Siapa tahu kamu beruntung bisa main di klubnya.”
            “Sipp deh, Pa!”
            Malam pun semakin larut. Semuanya telah masuk ke kamar masing-masing dan mulai terlelap. Tapi tidak bagi Sefa, dia tidak bisa tidur.
            “Nala! Nala!” panggil Sefa pada Nala-yang berada di ranjang sebelahnya-yang sudah larut dalam alam mimpinya. “Yah..udah tidur ni anak.”
            Sefa masih terbayang-bayang kejadian tadi di kampus. Wajah Setya terus ada di pikirannya. Andaikan Setya tahu apa yang dia rasakan, dan setya pun merasakan hal yang sama pasti hidup Sefa akan jadi lebih sempurna dari sekarang.
            Lama-lama Sefa tertidur dengan khayalan-khayalannya.

No comments:

Post a Comment